Apa Itu CBD (Central Business District) dan Mengapa Diperlukan?

Image: Unsplash - @lucious
0 466

Perkembangan kota yang sangat pesat diiringi dengan peningkatan jumlah penduduk sejak 30 tahun terakhir mau tak mau berdampak pada perkembangan bisnis serta pertumbuhan bangunan di pusat kota.

Ruang kota semakin padat, tata letak bangunan kian tak beraturan, sirkulasi lalu lalang kendaraan dan manusia yang juga bertambah padat mengakibatkan kemacetan di tiap ruas jalan. Dampaknya, kenyamanan beraktivitas di dalam kota pun akhirnya terganggu. Kegiatan perkantoran pun ikut tersendat. Beruntung ada yang namanya distrik bisnis pusat atau Central Business District (CBD).

Apa itu CBD dan Mengapa Diperlukan?

Apa Itu CBD
Image: cathaypacific.com

CBD merupakan inti kota yang terdiri dari kawasan perdagangan, jasa, dan kebudayaan. Di dalam CBD dibentuk lokasi-lokasi kegiatan yang saling berdekatan dan mudah dicapai menggunakan transportasi utama.

Dalam skala yang besar, CBD diharapkan menjadi superblok yang tidak hanya memiliki fungsi untuk kegiatan bisnis dan perkantoran saja, melainkan juga mencakup fungsi lain. Seperti untuk hunian penduduk, hotel, tempat rekreasi, dan lain-lain.

Pengembangan CBD ini ditujukan untuk mengurangi angka kemacetan dengan cara meminimalisir pergerakan manusia. Para penghuni CBD diharapkan hanya membutuhkan mobilitas jarak dekat untuk mendapatkan segala yang ia inginkan tanpa perlu keluar dari kawasan Central Business District.

Ini pula yang menjadi alasan mengapa kawasan CBD laris sebagai kawasan gedung perkantoran. Sebab bagi para pemilik usaha, hanya cukup menyewa kantor di area CBD dan segala aktivitas kantor terpenuhi dengan mudah.

Konsep CBD sendiri dianggap menguntungkan banyak pihak karena semakin mendorong tumbuhnya kegiatan yang beragam secara terpadu dalam satu lokasi secara memadai. CBD mampu menghasilkan suatu sistem sarana prasarana yang ekonomis serta efisien, dan mendorong pemisahan yang jelas dari sistem transportasi.

Selain itu, dengan adanya konsep Central Business District, diharapkan masyarakat juga terdorong untuk inovatif dalam perancangan kawasan dan bangunan dalam suatu lingkup wilayah yang terpadu.

Pada jangka panjang, kawasan CBD diharapkan mampu menjadi kawasan yang mandiri di mana penduduk bisa tinggal, bekerja, serta berekreasi dalam satu lokasi. Jika ini terjadi, maka ketergantungan penduduk terhadap penggunaan kendaraan boros energi untuk bepergian sontak akan berkurang, bukan?

Strategi Perancangan CBD

Dalam perealisasian kawasan distrik bisnis pusat, diperlukan beberapa strategi perancangan yang dibutuhkan, diantaranya sebagai berikut:

1. Branding

Branding di sini memiliki artian sebagai pengenalan identitas. Lokasi yang dirancang sebagai distrik pusat bisnis harus memiliki konsep identitas ekonomi serta kelayakan huni. Bahkan, beberapa kawasan Central Business District juga memiliki identitas tematik tersendiri.

2. Mix of uses

Untuk menjadi kawasan distrik bisnis pusat yang mandiri, lokasi CBD harus memiliki tata guna lahan yang bersifat mulitiguna atau mix of uses. Segala fungsi seperti hunian penduduk, ruang publik, jasa dan komersial, serta kebutuhan rekreasi harus dapat hadir dalam satu kawasan.

3. Massing framework

Tata bangunan pada kawasan CBD diharapkan memiliki kepekaan terhadap konteks urban. Maksudnya, di dalam suatu kawasan terdapat satu bangunan tertinggi/bangunan khas yang berfungsi sebagai tengaran (landmark) kemudian bangunan tersebut dikelilingi oleh bangunan lain yang tidak terlalu menonjol sebagai background building.

4. Efficient vehicular circulation

Perputaran kendaraan dianjurkan dirancang se-efisien mungkin dengan penyediaan transportasi umum. Dengan membentuk sistem transportasi umum internal dalam satu kawasan, diharapkan penduduk dalam kawasan tersebut dapat terhubung dalam suatu perputaran yang efektif. Sehingga terbentuk sikap ketergantungan menggunakan transportasi umum namun tetap efisien dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Pergerakan manusia di dalam kawasan tersebut pun akan lebih terarah sehingga kemacetan dapat dhindari.

5. Multi layer pedestrian linkage

Tidak hanya ramah pada penduduk dalam berkendara, kawasan CBD juga harus aman dan nyaman bagi pejalan kaki. Seperti yang diberlakukan pada beberapa kawasan superblok di Hongkong, tak hanya jalur pejalan kaki di lantai dasar, kita juga dapat menemukan jalur khusus pejalan kaki di lantai dua sehingga penggunaannya dapat menembus gedung-gedung yang berada di kawasan tersebut.

Baca Juga: Tips Memilih Lokasi Kantor yang Tepat Sebelum Sewa Kantor)

Bagian Utama CBD

Apa Itu CBD
Image: Instagram.com/adekelles

Umumnya, Central Business District memiliki dua bagian utama sebagai titik penting dalam pembentukan tata lingkungan dan banguanan. Bagian utama tersebut terdiri dari:

1. The heart of the area

Bagian ini ini biasa disebut dengan Retail Business District. Pada bagian ini biasanya didominasi dengan kegiatan yang berorientasi pada pusat pertokoan, perkantoran, bank, hotel, kehidupan politik, bioskop, dan lain sebagainya.

Pada kota kecil, biasanya fungsi-fungsi ini berbaur satu sama lain. Sedangkan pada kawasan di kota besar, fungsi-fungsi tersebut tampak dalam diferensiasi yang nyata.

2. The outsider area

Bagian yang kedua biasa disebut dengan Wholesale Business District. Pada area ini, biasanya ditempati oleh bangunan yang digunakan untuk kegiatan ekonomi dalam skala yang besar, seperti pasar, gudang (warehouse), gedung penyimpan barang (storage building), dan lain sebagainya.

Arah Perkembangan CBD

Perkembangan CBD dalam sekala besar diharapkan menjadi superblok. Definisi superblok merupakan konsep penataan lingkungan dan bangunan dengan memaksimalkan fungsi lahan. Pada lahan yang dapat dibilang cukup terbatas, pemampatan fungsi pemukiman, bisnis, pendidikan, jasa, dan rekreasi dinilai sangat membantu peradaban manusia.

Bisa dilihat dari letaknya yang berada di dalam kota, superblok dapat dipandang sebagai kota di dalam kota. Selain penerapan strategi mix of uses, superblok juga menganjurkan strategi mixed use building di mana bangunan dibentuk multiguna sehingga mampu mengakomodasi beberapa fungsi sekaligus.

Sehingga nantinya, kota tidak dianggap sebagai pusat penyangga dalam perekonomian saja tetapi secara mandiri juga dapat digunakan sebagai hunian yang layak. Selanjutnya, potensi perumahan baik konvensional maupun apartemen jelas akan terbuka dengan lebar walau harga tanah kian melonjak.

Leave A Reply

Your email address will not be published.