Dinilai Sarat Potensi, Makin Banyak Perusahaan yang Menggunakan Panel Surya

Surya Panel

Makin banyak perusahaan besar yang tertarik menggunakan panel surya karena dinilai sarat potensi. Dalam siaran pers panel surya merek Xurya di Jakarta, Kamis (20/6/2019), sejumlah perusahaan besar mendukung Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap (GNSSA) dengan memasang sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya atap Xurya.

Potensi Paling Besar Dibanding Energi Baru dan Terbarukan Lain

Panel Surya
Image: Wikipedia

“Energi Surya memiliki potensi paling besar jika dibanding energi baru dan terbarukan lain. Kapasitas terpasangnya per tahun baru 90 MWp5. Padahal potensinya bisa lebih dari 200.000 MW4. Maka agar energi tersebut dapat dimaksimalkan, kami memperkenalkan Xurya Lease, dimana calon pengguna sistem PLTS dapat memperoleh opsi dibebaskan dari kewajiban membayar upfront cost yang notabene selama ini menjadi momok”

Begitulah apa yang dinyatakan oleh Eka Himawan, Founder Xurya dalam acara Dukungan Nyata Sejumlah Pengusaha anah Air Bagi GNSSA di Jakarta, Kamis (20/6/2019). Eka pun mengajak dunia usaha dan industri untuk mulai beralih ke PLTS. Bila dihitung serta dioperasikan secara seksama, penghematan cukup besar bisa dinikmati hingga 30 persen.

“Pengguna sistem PLTS atap dengan Xurya Lease dapat merasakan langsung efisiensi sistem di bulan pertama” ujarnya meyakinkan. Tokopedia pun sudah memasang PLTS ini di atap kantornya yang bertempat di daerah Ciputra World 2 Jakarta.

Modul PLTS yang dipasang Tokopedia mencapai 13,4 kWp atau setara dengan jumlah listrik untuk 342 rumah di Indonesia. Hal tersebut diungkapkan oleh Sugwantono Tanto, Direktur PT Cipura Property Tbk.

Baca Juga: Pengusaha Tanah Air Dukung Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap

Solusi Atas Ancaman Krisis Energi

Panel Surya
Image: vox.com

Andhika Prastawa yang merupakan Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) & Deklarator GNSSA mengemukakan bahwa Indonesia bisa mengalami krisis energi dalam 30 tahun ke depan. Hal ini berdasarkan dari data Energy Outlook versi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Indonesia sudah menjadi importir minyak bumi sejak 2004. Bahkan di tahun 2028 nanti bisa terancam menjadi importir gas bumi, importir energi pada tahun 2032, dan parahnya bisa menjadi pengimpor batu bara di tahun 2038.

“Karena itulah kita perlu mengembangkan dan memperluas penggunaan sumber energi alternatif sejak dini sebagai penggantinya,” papar Andhika. Salah satu alternatifnya dengan mengaplikasikan PLTS atap sebagai media memanfaatkan energi surya. Selain sumber energinya melimpah, efeknya pun sangat positif dalam jangka panjang.

Secara budget pun lebih murah dengan emisi gas buang yang rendah. Tentu saja bisa menjadi solusi untuk mengurangi penyebab pemanasan global dan perubahan iklim.

Karena sarat akan potensi, tak heran jika sejumlah perusahaan besar yang mendukung Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap (GNSSA). Gerakan dengan memasang sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap (PLTS) atap ini diselenggarakan di Jakarta, Kamis (20/6/2019).

Perusahaan yang mendukung gerakan tersebut antara lain; Bika Living, Ciputra World 2 Jakarta, Dermaster, Grand Hyatt, PT Bukit Jaya Semesta, PT Himawan Putra, Indonesia Utama Mineral, PT Mega Manunggal Property Tbk, PT Monde Mahkota Biskuit, PT Mulia Bosco Sejahtera, Plaza Indonesia Realty Tbk, Wisma 77, dan Tokopedia.

Banyaknya potensi yang dihadirkan PLTS atap membuat Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) optimis bahwa Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap (GNSSA) dapat tercapai hingga tahun 2025. Program panel surya ini memang bertujuan untuk mendorong serta mempercepat pembangunan listrik tenaga surya (PLTS).

Tak hanya digunakan di sektor industri, program tersebut juga diharapkan bisa merambah sampai ke perumahan, fasilitas umum, dan perkantoran pemerintah. Harapanya bisa mencapai orde gigawatt.

Author: Lita Lia

Penulis lepas yang bisa dihubungi melalui: litaliaku@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *