Pilpres Tahun Ini Tak Mampu Naikkan Okupansi Hotel

Image: Pexels/TomFisk
0 75

Tahun ini, kontestasi politik lima tahunan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden beserta anggota legislatif digelar. Sayangnya, pesta demokrasi tersebut tak cukup ampuh menaikkan tingkat okupansi hotel di Jakarta.

Baik tingkat hunian kamar ataupun harga kamar masih berjalan seperti hari-hari biasa. Keadaan ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan pemilihan presiden (Pilpres) lima tahun lalu, yaitu pada 2014.

Menurut hasil survei Harga Properti Residensial Kuartal II-2014 yang diterbitkan Bank Indonesia (BI), menjelang Pilpres 2014, tingkat hunian hotel meningkat 8,13 % year on year. Lebih tinggi 4,33 % year on year pada periode sebelumnya.

Tingkat hunian hotel pada tahun tersebut mengalami peningkatan karena didorong kegiatan persiapan Pilpres. Banyak acara kampanye yang diselenggarakan di hotel. Plus pada saat itu banyak juga peserta yang menginap di hotel.

Bahkan karena tingginya permintaan, tarif kamar hotel (room rate) di Jakarta pun ikut naik. Kenaikannya pun tak main-main, mencapai 14,47 % dari periode sebelumnya.

Mengapa Tak Terjadi Tahun Ini?

Image: Booking.com

Berbeda dengan tahun 2014, Pilpres tahun ini tak memberi dampak positif pada tingkat okupansi hotel.

Menurut berbagai penelitian, tingkat hunian rata-rata pada Januari-Februari 2019 hanya sekitar 58%. Angka ini bahkan lebih rendah 2% bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Ferry Salanto, Senior Associate Director Colliers International Indonesia, mengungkapkan bahwa kondisi ini dikarenakan kegiatan politik pada tahun ini tidak sebanyak lima tahun yang lalu. Kegiatan seperti seminar dan kegiatan lain pra-Pemilu tidak banyak dilakukan di hotel.

Okupansi Rendah, Harga Tertekan

Awalnya pilpres diprediksi bakal meningkatkan okupansi hotel seperti lima tahun yang lalu, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Malahan selain nilai okupansi makin merendah, harga juga ikut tertekan.

Tarif harga sewa kamar hotel biasanya mengikuti jumlah okupansi. Untuk kebijakan harga dasar, saat ini masih menggunakan harga lama pada tahun lalu. Pembaruan harga diperkirakan baru bisa dilakukan setelah Pemilu usai.

Tarif sewa kamar harian rata-rata saat ini berkisar pada level 72 dolar AS atau setara Rp1,002 juta. Tarif tersebut lebih rendah 6 dollar AS jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Turunnya Okupansi Perkantoran Mencapai Level Terendah di Jakarta

Penurunan Juga Terjadi di Luar Jakarta

Image: Booking.com

Manager Research & Consultancy Coldwell Banker Commercial, Angra Angreni mengakui bahwa secara keseluruhan di Indonesia sedang mengalami penurunan okupansi hotel pada kuartal I/2019. Hal tersebut juga terjadi di luar Jakarta.

Penyebanya menurut Angreni adalah harga tiket perjalanan yang mengalami kenaikan hingga dua kali lipat. Banyak perusahaan yang mengurangi intensitas kunjungan antar kota. Selain itu, masyarakat yang hendak bepergian untuk sekadar liburan pun juga menurun, sehingga berdampak juga pada penurunan okupansi hotel.

Namun, untuk DKI Jakarta, meskipun tidak ada kenaikan berarti namun tingkat okupansi terbantu oleh kegiatan perusahaan yang berada di Ibukota. Menurut Ferry, ini memang wajar terjadi karena pada dasarnya karakteristik hotel di Jakarta lebih digunakan untuk keperluan bisnis.

Ferry juga memprediksi bahwa kondisi ini akan terus berlangsung hingga Kuartal II-2019. Pada periode tersebut, masyarakat cenderung membelanjakan uangnya untuk kepentingan lain seperti puasa, mudik lebaran, hingga persiapan tahun ajaran baru.

Harapan para pelaku bisnis hotel hanya berada pada semester ke-dua tahun ini, di mana pada kuartal tersebut diprediksi akan ada peningkatan kegiatan pemerintah seperti seminar untuk penyerapan anggaran bakal gencar dilakukan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.